Ada empat titik jalan yang kini ditingkatkan kualitasnya di JLU dengan biaya total Rp 2 miliar. Yus, panggilan akrab Yuswadi Rahmono mengakui, pembuatan jalan rigid relatif mahal. ”Untuk jalan rigit sepanjang 350 meter saja butuh dana sekitar Rp 1 miliar. Makanya peningkatan JLU dilakukan bertahap,” ujarnya.
Yus menambahkan, dalam waktu 2-3 tahun ke depan, seluruh ruas jalan JLU bakal berstruktur rigid. ”Karena bertahap, ada ruas JLU seperti di Jalan Raden Wijaya yang mulai rusak,” ujarnya.
Khusus jalan yang rusak di Jl. Raden Wijaya bakal diperbaiki di titik-titik kerusakannya saja. Soalnya kelak badan aspal yang rusak itu bakal dibongkar kemudian diganti dengan jalan beton bertulang.
Selain sebagai akses keluar-masuk pelabuhan, JLU juga berperan ”membuang” truk-truk barang agar tidak melintasi tengah kota. Sebab sesuai dengan UU 22/2009 tentang Lalu Lintas, truk dan sejenisnya dilarang masuk kota.
Sempat Dikeluhkan
Sejumlah pengusaha yang memanfaatkan pelabuhan Tanjung Tembaga untuk bongkar-muat sempat mengeluhkan keberadaan jalan akses pelabuhan (JLU). Soalnya selain sering rusak, JLU sesuai kelas jalannya (kelas III) hanya layak dilewati kendaraan bertonase 8-10 ton.
Salah satu contoh kasus ketika PT Kertas Leces mendatangkan 8.000 ton batubara melalui dermaga baru Tanjung Tembaga, awal Agustus 2011 lalu. Perusahaan kertas milik BUMN itu menggunakan dump truck bertonase 24 ton untuk mengangkut batubara dari pelabuhan ke pabriknya di Desa Leces, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.
Sisi lain JLU hanya layak dilewati truk bertonase 8-10 ton. Kadishub Kota Probolinggo, Sunardi pun mengaku, dilematis dengan keadaan itu. ”Mau tidak diizinkan bagaimana, bisa-bisa kami dicap menghambat kinerja PT Kertas Leces. Tetapi kalau diizinkan, jelas jalan di Kota Probolinggo jebol,” ujarnya saat itu.
Sementara Sekdakot Djohny Harijanto sempat menyarankan agar PT Kertas Leces mengangkut batubara dengan truk-truk kecil. Tetapi saran itu tidak dipenuhi PT Kertas Leces.
Sejumlah dump truck bertonase 24 ton pun hilir-mudik mengangkut batubara melintasi JLU. Akibatnya bisa ditebak, ruas Jl. Raden Wijaya semakin ”amburadul”.
Selain PT Kertas Leces, sejumlah pabrikan juga memanfaatkan JLU sebagai jalan akses ke pelabuhan. Di antaranya PT Kutai Timber Indonesia (KTI), perusahaan kayu lapis yang pabriknya bercokol di kawasan pelabuhan (Jl. Tanjung Tembaga Timur). Juga PT Pamolitye Adhesive Industry (PAI), perusahaan lem kayu lapis.
”Cukup banyak pabrikan yang menggantungkan kepentingan pada jalan akses pelabuhan. Makanya jalan pelabuhan harus bagus biar kegiatan bongkar-muat lancar,” ujar Administrator Pelabuhan (Adpel) Tanjung Tembaga, Wiliyanto. isa (http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=6f39e30f49a56af52ae983e23dee9b12&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc)
PROBOLINGGO - Setelah sempat dikeluhkan pihak yang bongkar-muat di pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, jalan akses menuju pelabuhan kini ”disulap”. Jalan Lingkar Utara (JLU) di Kecamatan Mayangan yang awalnya dari aspal diganti dengan rigid (beton bertulang).