Instingnya pun cepat bekerja dan ia menyimpulkan bahwa tak lama lagi pasti terjadi pencurian, karena Nijar selama ini sudah dikenal sebagai maling. Hasan pun meminta ibunya masuk rumah. “Masuk buk, sebentar lagi pasti ada warga sini yang kemalingan,” pintanya kepada sang ibu.
Kecurigaannya pun segera terbukti. Ia mendengar warganya berteriak, “Maling.” Ia pun melangkah ke jalan depan rumah. Dari kejauhan ia melihat Nijar memacu sepedanya, sedangkan agak jauh jauh di belakangnya ada yang membuntuti. Hasan pun bergerak untuk menghadang Nijar di perempatan jalan.
Melihat ada warga yang menghadang, Nijar pun berbelok ke utara. Ia masuk gang untuk menghindari Hasan. Rupanya, kesialan yang menghadang Nijar, karena ternyata gang itu buntu.
Tak mau tertangkap, Nijar pun mengambil tindakan darurat. Ia meninggalkan sepeda pancal dan ayam curiannya begitu saja, lalu menerobos salah satu rumah. Ia melihat sebuah mobil boks di garasi milik Sudaryono yang terbuka, lalu memilih bersembunyi di kolongnya. Sementara di luar, semakin banyak warga yang berkumpul ingin membekuk maling ayam itu.
Namun, pria yang mengaku sudah punya dua cucu itu tetap merasa belum aman, karena tidak bisa selamanya bersembunyi di kolong mobil itu. Ia pun buru-buru keluar dari garasi.
Lalu, dengan menggunakan tangga, Nijar naik pagar tembok setinggi tiga meter untuk menghindari kejaran warga.
Melihat buruannya berada di atas pagar tembok, warga pun melempari sekenanya. “Tiga kali Nijar jatuh kena lemparan. Tapi ia terus berusaha melarikan diri,” kata Hasan.
Setelah tiga kali naik-turun tangga, akhirnya Nijar berhasil meloloskan diri dari kejaran warga. Nejar berhasil naik merayap melalui atap genteng. Ternyata di balik tembok tersebut puluhan ibu- ibu sudah menunggu kedatangan Nijar. “Disangkanya di belakang pagar tembok, tanah kosong. Dan tidak ada orang,” timpal Hasan.
Kendati posisinya makin terdesak, Nijar belum menyerah. Ia lalu bersembunyi di kandang sapi. Agar tidak terlihat, ia menutupi tubuhnya dengan jerami kering di tempat makan sapi. Memang kepalanya merunduk dan tertutup jerami, tetapi ia lupa menutupi pantatnya yang masih menyembul.
Inilah yang kemudian membuat Nijar ketahuan. Pantatnya itu dilihat Sali (60) pemilik sapi yang hendak memberi makan ternaknya. Karuan saja ibu-ibu yang kebingungan mencarinya langsung menggeruduk pelaku dan memitingnya. Nijar tak bisa meloloskan diri karena dikepung puluhan ibu. Hj Sumaryam, orangtua Santoso yang mengaku menangkap pertama kali. “Yang nangkap ibu saya dan ibu-ibu sekampung,” ujar Hasan.
Para ibu pun langsung menginterogasinya. Namun, Nijar tetap bertahan bahwa ia bukan maling, sebaliknya ia sedang mengejar maling. Jawaban berbelit itu semakin membuat jengkel para ibu.
“Ngejar maling kok malah sembunyi di kandang. Ya tak gebuk juga tubuhnya,” ujar Hj Sumaryam.
Meski omelan dan pukulan para ibu terus mendarat di badannya, Nijar bergemin dan tetap tak mengaku mencuri. Karena sikapnya yang keras kepala tidak mau mengakui padahal banyak saksi mata yang melihat Nejar membawa ayam jago dan kabur setelah tepergok, akhirnya warga melaporkan kejadian tersebut ke petugas polsekta setempat.
Santoso (40) warga setempat, mengungkapkan, saat itu, Ajis alias Kadir, sekitar pukul 02.30 WIB hendak berwudu untuk menunaikan salat tahajud. Belum sampai ke kamar mandinya, Ajis mendengar ayamnya berkokok.
Curiga ada seseorang dekat dengan kandang ayamnya, Ajis kemudian memanggil dengan kalimat sekenanya dari balik dinding gedek rumahnya. “Siapa di luar,” teriak Ajis dua kali. Mendengar teriakan seperti itu, Nijar yang sudah berhasil menangkap ayam, meladeni teriakan si pemilik ayam. “Saya cong,” terang Santoso menirukan jawaban Nijar.
PROBOLINGGO | SURYA - Meski tidak ikut ronda seperti para suami mereka, ibu-ibu warga RT03/RW02, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, piawai menangkap maling. Tak hanya menggebuk, para ibu itu juga memberi bonus omelan panjang yang memanaskan kuping si maling.