Rabu, 18 Agustus 2010 00:36

Kisah Biju Patnaik - Indonesian forgotten friend

Ditulis oleh 
Taksir item ini
(0 pilihan)

Bung Hatta menemui Nehru dengan penyamaran. Penyamaran ini direkayasa oleh Biju Pitnaik, pilot, pejuang India pemberani yang kemudian menjadi Menteri India. Berikut cuplikan kisah dengan gaya bertutur orang pertama:

Keesokan harinya kami berangkat ke Kalkuta dan terus ke New Delhi. Pada waktu itu Dr. Hatta dan rombongannya tidak mempunyai paspor. Saya nyatakan mereka sebagai pembantu penerbangan saya, dan mereka saya beri nama baru. Dalam perjalanan itu Dr. Hatta menjadi Tuan Abdullah.

bung-hattaPejabat paspor dan imigrasi India pada saat itu sangat menolong. Dr. Hatta dan rombongannya berkunjung ke New Delhi sebagai tamu saya. Saya menemui Nehru keesokan harinya dan menceritakan peristiwa itu kepadanya. Dia menghendaki agar Dr. Hatta tinggal di rumahnya, tetapi ketika saya mengatakan bahwa kedatangannya dirahasiakan dan bahwa Dr. Hatta bepergian sebagai Tuan Abdullah, dia mengalah.

nehru-gandhiPembicaraan selama seminggu antara Nehru serta para menterinya, dan Dr. Hatta serta rombongannya, Nehru menggambarkan Dr. Hatta sebagai Tuan Abdullah, seorang pengusaha dari Indonesia dan seorang teman dekat Dr. Soekarno. Bahkan dalam pertemuan dengan Mahatma Gandhi, identitas Dr. Hatta tidak dijelaskan. Oleh karena itu, Pandit Nehru kemudian ditegur oleh Mahatma Gandhi.
Dalam pembicaraan terakhir pada waktu makan malam di rumah Nehru, dicapai kesepakatan bahwa Pemerintah India akan memberikan bantuan sepenuhnya kepada gerakan perjuangan Indonesia, dan Pemerintah India akan segera mengambil langkah-langkah untuk mengajukan masalah Indonesia kepada Dewan Keamanan. Krishna Menon, komisaris tinggi India di London, diperintahkan menjajaki segala kemungkinan. Dengan itu, diletakkanlah dasar bagi internasionalisasi “masalah intern Belanda”.

Selama pertemuan Dr. Hatta di New Delhi, para pemimpin India, baik Nehru, Patel maupun yang lain, terpesona oleh keterangan Dr. Hatta yang jelas, jalan pikirannya yang jernih, serta saran-sarannya yang tepat dan praktis. Karena mengetahui keterbatasan India pada waktu itu juga, Dr. Hatta tidak mengusulkan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh India, terlepas dari keinginannya memberikan dukungan sepenuhnya kepada Indonesia. Ini telah memungkinkan terhindarnya keadaan yang tidak mengenakkan, tetapi justru telah menjadikan para pemimpin India bertekad untuk berusaha sekeras-kerasnya. Ini hanyalah satu cerita mengenai kecerdasan yang tenang yang digunakan Dr. Hatta untuk mengabdi kepada kepentingan bangsanya.

Keesokan harinya, sesuai dengan janji, kami meninggalkan New Delhi. Istri saya tidak ikut serta. Kami pulang melalui rute yang sama - Kalkuta, Rangoon, Butterworth - dan mendarat di Bukitinggi.

Radio Bukittinggi mengudara dan menyiarkan bahwa Dr. Hatta telah pulih kembali. Orang-orang Belanda di Indonesia dan orang-orang Inggris di India (pada waktu itu di India terdapat gubernur jenderal Inggris dan panglima besar Inggris) tetap tidak mengetahui peristiwa itu.

Saya mengucapkan selamat kepada Dr. Hatta dan kawan-kawannya, lalu meneruskan perjalanan ke Yogya untuk menyampaikan surat-surat Nehru kepada Soekarno, dan melaporkan kepadanya segala yang terjadi antara Nehru dan Dr. Hatta.

Sumber: Biju Patnaik, Pribadi Manusia Hatta, Seri 7, Yayasan Hatta, Juli 2002.
Baca 123 kali Terakhir diperbarui pada Rabu, 18 Agustus 2010 01:18
blog comments powered by Disqus
You are here:   Home