Dalam Islam disebutkan bahwa, 9 dari 10 pintu rizki adalah perniagaan. Lalu, apakah semua orang didorong menjadi pedagang? Tak dapat disangkal bahwa perniagaan adalah tulang punggung perekonomian dari masa ke masa, yang memajukan sebuah bangsa. Bahkan negara seperti Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam menjadi salah satu macan Asia yang disegani hanya karena perdagangannya.
Inti dari sebuah perniagaan adalah jual beli. Ada yang menjual dan ada yang membeli. Karena ada yang membutuhkan, pada akhirnya ada yang menyediakan. Setelah masuk era industrialisasi, bahkan orang bisa menciptakan pasar, yakni menyediakan barang-barang yang belum dibutuhkan, dan akhirnya orang membeli karena tersedia. Inilah keunggulan manusia dalam berpikir.
Awalnya, semua perniagaan atau perdagangan berbasis barang nyata, tetapi kemudian bergerak ke arah komoditi yang abstrak. Dalam perkembangannya, komoditi abstrak ini pun tidak kalah gaungnya dengan barang perniagaan nyata. Sebut salah satunya adalah pelatihan motivasi. Apa yang diperjual belikan di sini? Gagasan. Orang butuh gagasan untuk pencerahan dan penyegaran batin, agar jiwa mereka kuat dalam menghadapi cobaan, sehingga mau membeli gagasan tersebut di tempat pelatihan.
Di mana lagi pasar berniaga tanpa ada barang yang diperjual belikan? Di tempat kerja! Di kantor, di pabrik, di sekolah, di manapun anda bekerja. Anda, saya, dan banyak orang yang bekerja secara reguler sebenarnya sedang berdagang dengan perusahaan. Kita memiliki ilmu dan keahlian atau ketrampilan, itulah komoditi yang kita miliki. Perusahaan membutuhkan komoditi yang kita miliki untuk menjalankan usaha. Kita mengikatkan diri dengan perusahaan dalam sebuah perjanjian, seperti pembelian borongan. Itulah yang terjadi.
Bila ijazah anda hanya SMA, harganya akan kalah dengan yang berijazah diploma. Kalau anda baru lulus sekolah, jangan menakar harga anda sama dengan yang sudah berpengalaman. Untuk bekerja sebagai teknisi, ijazah diploma 3 justru jauh lebih dihargai daripada sarjana. Jadi, kepandaian, keahlian, dan ketrampilan bermakna serupa dengan komoditi nyata seperti perhiasan, garmen, sembako ... berharga bila memang bagus, bernilai bila tepat berada di tempat yang dibutuhkan.
Pembeli ingin harga semurah mungkin, penjual berusaha mempertahankan harga tinggi. Begitu pula dengan hubungan pekerja dan majikan. Pekerja, kita ini, merasa bahwa harga kita tinggi dan layak dibayar dengan lebih baik. Majikan, yakni pihak perusahaan, punya perhitungan dan pertimbangan yang berbeda. Tidak mengherankan, tiap awal tahun wajah daerah industri selalu diwarnai dengan demo minta kenaikan UMR, sebab mereka khawatir kenaikan upah di tahun mendatang tidak mencukupi untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Apa bedanya nasi pecel di kaki lima dengan nasi pecel di restoran besar? Mungkin pecel di kaki lima lebih nikmat daripada pecel di restoran, tetapi soal harga sudah pasti lebih mahal yang ada di restoran. Mengapa demikian? Itulah peran kemasan. Kripik singkong curah harganya murah, tapi begitu diolah higienis, diberi rasa berbeda, dan dikemas dalam aluminium foil berlabel Q-Tela, harganya melonjak. Sekali lagi kemasan. Itulah yang HARUS anda lakukan sebagai pencari kerja.
Bila anda hanya lulusan SMA atau SMK, wajib bagi anda untuk mengemas diri dengan kualitas yang membuat citra diri anda naik. Salah satunya dengan menguasai pengoperasian komputer (MS-Office), meningkatkan ketrampilan teknis melalui kursus spesialisasi, magang tanpa bayaran di bengkel dsb. Dengan demikian, saat melamar bersama-sama dengan lulusan setingkat SMA/SMK yang belum pengalaman lainnya, anda akan punya nilai lebih.
Bila kita adalah pekerja, karyawan di sebuah perusahaan, jadikanlah diri kita seorang “learner” ... orang yang selalu belajar. Seperti seorang Steve Jobs yang punya motto: tetap lapar, tetap bodoh (stay hungry, stay foolish). Tujuannya adalah agar dirinya tidak pernah lelah mencari, tidak pernah lelah belajar, untuk sebuah cita-cita yang diyakininya. Apa terjadi? Dunia memiliki seorang visioner dalam industri komputer dan gadget terkemuka yang sulit dicari duanya. Bila anda telah menguasai sebuah aspek dalam pekerjaan, bergeraklah ke aspek yang lain.
Ada seorang teman yang ahli dalam operasional medan batubara, sekalipun hanya lulusan STM. Di lokasi tambang batubara atau penimbunan batubara PLTU, ada banyak alat berat yang beroperasi. Dia menargetkan dirinya setahun harus menguasai minimum 1 atau 2 alat. Setelah 10 tahun, dia menjadi sosok tangguh disegani, solid dalam penguasaan alat berat, dan menjadi mentor bagi operator baru. Didukung dengan bahasa Inggrisnya yang cukup baik untuk lulusan STM, dia bisa melamar ke lahan batubara manapun dengan gaji yang bagus, bahkan lebih tinggi daripada sarjana. Inilah yang disebut menempa diri dengan pengalaman.
Pengalaman tidak bisa dibeli, karena itulah ada argumen kuat: 1 x 10 tidak sama dengan 10 x 1. Bekerja masing-masing 1 tahun di 10 perusahaan, tidak sama maknanya dengan bekerja 10 tahun di 1 perusahaan. Kalaupun gaji yang diperoleh pelaku 1 x 10 lebih besar, tetapi pengalaman pelaku 10 x 1 pasti lebih baik. Di dalam 10 tahun pengalaman, bukan hanya ilmu dan keahlian yang kian maju, berkembang, dan mantap, tetapi di sana juga ada kemapanan emosional, bijak dalam berpikir dan bertutur, sehingga disebut dengan staf senior.
Yang namanya berdagang pasti ingin untung. Penjual ingin dihargai setinggi mungkin, pembeli ingin membayar semurah mungkin. Barang yang mudah diperoleh tidak bisa dijual dengan mahal, karena menganut sistem pasar. Sebaliknya, barang dengan kualitas baik akan dihargai dengan pantas, dan barang langka sulit ditaksir. Itulah kita di mata pemilik modal ... kualitas kita akan menentukan apakah kita akan dibayar UMR (karena hanya bisa bekerja sebagai buruh di pabrik), atau bergaji beberapa juta (sebagai engineer di PLTU), atau bergaji sangat mahal (misalnya pembau tembakau di pabrik rokok). JANGAN terlalu tinggi menghargai diri, karena itu menyulitkan diri anda sendiri, juga jangan terlalu rendah karena anda akan rugi.
Amanat agama manapun di dunia ini adalah menyuruh manusia meningkatkan diri mereka, agar menjadi manusia yang utama. Manusia yang terbaik adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Menjadi manusia yang bermanfaat akan terlaksana bila kita memahami kapasitas dan kapabilitas kita, dan mengoptimalkannya untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Jadilah seorang learner, terus mengasah diri, menempa diri dengan pengalaman, dan tidak lekas pindah-pindah tempat kerja hanya karena uang. Jangan hanya melihat keuntungan sesaat, tapi berpikirlah secara berjangka.
Tips dari saya: Yakinlah sudah tidak ada prospek dan perkembangan di tempat kerja yang sekarang, sebelum anda meloncat ke lokasi pekerjaan baru.
Menyitir Steve Jobs ... stay hungry, stay foolish.
Sukses buat anda!