Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Rochadi bilang, ongkos terbesar dari proyek uang baru adalah untuk pengurusan hak cipta, penelitian sejarah terkait ornamen budaya seperti angklung dan gedung sate yang ditampilkan di uang baru tersebut. "Desain baru jelas ada biayanya, persisnya belum kami hitung tapi tidak terlalu besar. Yang besar adalah biaya hak cipta dan penelitian sejarah," katanya dalam konferensi pers usai peluncuran uang baru di Kantor Gubernur BI Bandung, Selasa (20/7).
Biaya produksi uang dari logam lebih mahal namun bagi BI itu sepadan dengan nilai efisiensinya. "Perbandingannya 1:15, jadi kalau uang kertas bertahan satu tahun sedangkan logam bisa tahan 15 tahun," imbuh Budi. Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi S. Rochadi mengatakan untuk pecahan sebesar Rp1.000 disiapkan sebanyak 700 juta keping. Saat ini, sudah tersedia 300 juta keping yang siap diedarkan. "Dengan tercetaknya 300 juta keping berarti sudah mencapai 40% yang dicetak oleh Peruri," ujarnya dalam jumpa pers di Gedung Bank Indonesia Bandung, sore ini.
Adapun pecahan uang kertas Rp10.000, akan dicetak sebesar 820 juta bilyet/lembar. Saat ini, sambungnya, bank sentral sudah mencetak sebanyak 120 juta bilyet. "Dengan kerja Peruri seperti ini tak akan terjadi kekurangan uang," katanya. Uang pecahan tersebut mulai diedarkan di seluruh Kantor Bank Indonesia, hari ini. "Kami meminta kantor kas Bank Indonesia untuk melayani penukaran uang baru ini,” katanya.
Budi menambahkan uang pecahan Rp1.000 dan Rp10.000 lama masih bisa digunakan sebelum ditarik oleh Bank Indonesia. "Uang lama masih bisa digunakan sebelum ditukarkan ke bank," katanya
